RSS

Sungai Pelangi

Sungai Pelangi - Sungai yang bernama Caño Cristales “River of five colors” ini mempunyai keindahan tersendiri. Sungai ini terletak di Kolombia sebelah utara, daerah yang terpencil, dekat kota La Macarena. Sungai sepanjang sekitar 100 km dengan lebar 20 meter ini memiliki warna-warna indah seperti pelangi dan tempat eksotis ini hanya bisa dicapai dengan menggunakan kuda atau bagal. Sungai Pelangi nan indah ini mempunyai alga atau ganggang khusus pada bebatuannya hingga dapat memamerkan warna-warna pelanginya pada saat puncak musim kemarau (antara kedua musim kemarau dan hujan).
Sungai Pelangi ini arus airnya berperan mengatur jumlah sinar matahari yang bisa mencapai ganggang. Pada musim hujan, arus tersebut menjauhkan sinar matahari dari dasar sungai yang dalam hingga alga atau ganggang yang tumbuh di dasar sungai ini tidak dapat bersinar bahkan tenggelam.
Juga di musim kemarau air menjadi dangkal hingga alga atau ganggang tidak mendapat air yang cukup, hal itu membuat warnanya redup bahkan tak tampak sama sekali. Namun keajaibannya terjadi antara penghabisan musim kemarau yang memasuki musim hujan. Di antara musim inilah alam menciptakan kondisi yang sempurna untuk menghidupkan warna merah, kuning, hijau dan biru. di Cano Cristales.

Sayangnya hanya beberapa biro perjalanan yang menawarkan kunjungan ke lokasiSungai Pelangi, dan keindahannya pun terjadi hanya setahun sekali. Tuhan memang Maha Tinggi, dialah sang pencipta dunia dan segala isinya. Termasuk Caño Cristales yang biasa di sebut juga sungai “lima warna” atau lebih di kenal dengan sungai “Pelangi”.

Tanaman yang Bisa Mendeteksi Bom Dengan Berubah Warna


yudhi XIII, Selasa, 15 Februari 2011

Ilmuwan Amerika mengembangkan tanaman yang bisa mendeteksi bom. Caranya, mereka "mengajari" protein tanaman untuk mengubah warna saat ada unsur kimia tertentu. Penerapan hasil penelitian bukanlah hal yang susah, misalnya, tanaman itu bisa digunakan melingkari gerbang keamanan. Saat teroris mendekat dengan bahan peledak, seluruh tanaman berubah warna menjadi putih.

Daily Mail melaporkan, tanaman itu bekerja karena reseptor protein dalam DNA tanaman secara alami merespon rangsangan ancaman dengan melepaskan unsur kimia bernama terpenoid untuk menebalkan kulit ari daun, akibatnya daun mengubah warna. Penelitian ini dikerjakan oleh profesor biologis University of Colorado, June Medford bersama markas besar angkatan bersenjata Amerika Serikat, Pentagon. "Tanaman tidak bisa berlari atau bersembunyi dari ancaman, sehingga mereka mengembangkan sistem mutakhir untuk mendeteksi dan merespon lingkungan mereka," kata profesor Medford.

Para peneliti merancang program komputer untuk memanipulasi mekanisme pertahanan alami tanaman dengan "mengajari" reseptornya menanggapi unsur kimia bahan peledak serta polutan udara dan polutan air. Reseptor komputer yang didesain ulang tersebut dimodifikasi supaya berfungsi dalam dinding sel tanaman sehingga mereka bisa mengenali polutan-polutan atau bahan peledak dalam udara atau tanah di dekatnya. Tanaman itu mendeteksi senyawa dan mengaktifkan sinyal internal yang menyebabkan hilangnya warna hijau dan mengubahnya menjadi dedaunan putih.

Kemampuan mendeteksi dari tanaman ini serupa bahkan lebih baik daripada anjing. Sifat deteksi itu bisa digunakan untuk tanaman apapun dan bisa mendeteksi beberapa polutan sekaligus. Profesor Medford dan timnya belum lama ini menerima hibah tiga tahun senilai 7.9 juta dolar dari U.S. Defense Threat Reduction Agency untuk membawa penemuan mereka ke "dunia nyata." Penelitian itu muncul dalam jurnal PLOS ONE.